Minggu, 29 Januari 2017

SITUS SEJARAH SINGA PERBANGSA




 
( Makam Singaperbangsa di Kota Banjar )

SEBUAH papan pemberitahuan dengan ukuran sekira 60 cm x 100 cm, berdiri di tepi Jalan Siliwangi Banjar-Jawa Tengah. Papan berwarna putih kusam dengan tulisan warna hitam itu bila amati berukuran kecil, sehingga  tidak bisa dilihat dengan jelas. Apalagi karena papan tersebut  ternyata terhalang oleh sejumlah dahan pepohonan.
Akibatnya, “pesan” yang ingin disampaikan papan tersebut  bahwa di tempat itu ada sebuah situs, yaknis Situs Budaya Singa Perbangsa, tidak bisa diketahui dengan mudah. Termasuk yang tidak bisa dilihat dengan jelas tersebut adalah tulisan warna hitam yang tertera dalam papan mengenai isi UU No 5 Tahun 1992 Bab VIII Pasal 2.5.
Adapun bunyi uu tersebut, adalah “Barang siapa dengan sengaja merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungan atau membawa, memindahkan, mengambil, mengubah bentuk dan/ atau warna, memugar atau memisahkan benda cagar budaya tanpa seizin pemerintah sebagaimana dimaksud dalam uu tersebut…” akan dipidana penjara selama-lamanya sepuluh tahun, atau denda setinggi-tingginya 100 juta rupiah.
Sebuah jalan setapak, tampak di tepi jalan utama Banjar-Jawa Tengah di dekat papan kusam tersebut.  Itulah jalan satu-satunya yang mengarah ke situs cagar budaya yang berada sekira 20 meter dari tepi jalan.
Jalan setapak tersebut, bila dicermati terlihat sempit, lebarnya hanya sekira 60 cm saja Selain sempit, jalan itu pun terbilang licin karena dipenuhi dedaunan kering dan rumput liar.
Itu artinya, tiap orang yang akan berkunjung ke situs budaya itu, haruslah hati-hati. Tidak sembrono. Jika tidak hati-hati alias sembrono, bisa saja terpeleset. Apalagi karena di jalan tersebut, tidak ada pegangan yang kokoh, selain pagar kayu yang sudah lapuk.
Sekira 20 meter dari tepi jalan, atau setelah melewati jalan setapak menanjak itu dengan susah payah, kita akan melihat dua makam tua berukuran besar. Dua makam yang di atasnya berserakan batu gunung itu, ukurannya beda. Yang satu berukuran lebih besar, sedangkan yang satunya lagi, agak kecil. Makam yang berukuran besar, menurut warga setempat “dihuni” Singa Perbangsa, sedangkan yang kecil, adalah istri Singa Perbangsa. Keduanya berada dalam areal kecil berpagar kayu dan bambu lapuk, dan diteduhi pohonan besar.
Di luar areal situs, ada dua bangunan kecil (saung) yang juga sudah lapuk. Bangunan pertama berada dekat makam, sedangkan yang satunya lagi agak jauh dari makam, dan berada di dalam sebuah tempat mirip gua. Namun perlu diketahui, baik kedua makam maupun kedua saung itu, berada di kawasan milik PT Perhutani.
                                                                          ***          
PERSOALANNYA sekarang betulkah yang bersemayam di situs tersebut Singa Perbangsa? Lalu, ada kaitankah dengan tokoh Singa Perbangsa di Kabupaten Karawang?
Sebenarnya, tidak banyak keterangan yang memberi petunjuk ihwal keberadaan makam tersebut. Hanya beberapa catatan menunjukkan bahwa yang bersemayam di makam tersebut memang Dalem Singa Perbangsa. Catatan itu bahkan menyebutkan bahwa dia sebenarnya ayah dari Bupati Karawang pertama yang berkuasa pada abad XVII,  ketika Tatar Sunda dikuasai Mataram.
“Warga di sini meyakini bahwa yang bersemayam di sini memang ayah Bupati Karawang yang dilantik menjadi Bupati oleh Sultan Agung tahun 1633, dan meninggal dunia tahun 1677 serta dimakamkan di Desa Manggung Jaya Kec. Cilamaya, Karawang,” kata Sapri, warga sekitar situs yang sering memberikan penjelasa kepada mereka yang berkunjung ke situs.
Menurut Sapri, berdasarkan keterangan yang diperoleh dan selalu ia ingat, Kanjeng Adipati Singaperbangsa yang menjadi Bupati Karawang pertama tersebut berasal dari Kertabumi, Galuh. Bukti bahwa Adipati Singa Perbangsa berasal dari Kertabumi, setelah dilantik Sultan Agung, ia diberi gelar Adipati Kertabumi IV. Adapun Kertabumi, berdasarkan catatan, merupakan sebuah kerajaan kecil di Tatar Galuh dan berpusat di Cimaragas.
Dai mengatakan, nama Adipati Singaperbangsa semula kurang terkenal. Namun ketika Sultan Agung (1613 – 1645) berkuasa dan Kerajaan Mataram mulai mengembangkan wilayah kekuasaannya, nama Adipati Singaperbangsa mulai muncul. Hal itu terjadi setelah Sultan Agung  mengangkat Singaperbangsa menjadi Adipati Kertabumi III. Singaperbangsa ini merupakan putra Prabu di Muntur.
Namanya Singa Perbangsa semakin terkenal, ketika Sultan Agung pada tahun 1632 menugaskan Singaperbangsa mengamankan daerah Karawang dari gangguan tentara Banten. Saat itu, Singaperbangsa melaksanakan tugas tersebut dengan  sungguh-sungguh sehingga dipandang berhasil. Setahun kemudian, tahun 1633, atas keberhasilannya dia diberi penghargaan oleh Sultan Agung berupa keris, bernama “Karosinjang.”
Pulang dari Mataram, sedianya Singaperbangsa akan kembali ke Karawang karena sudah mendapat tempat di hati masyarakat Karawang. Akan tetapi, di tengah perjalanan ia memutuskan untuk kembali dulu ke Kertabumi, Galuh.
Pada akhirnya, dia tidak bisa kembali ke Karawang, karena ia ternyata meninggal dunia di tanah kelahirannya, Galuh. Sultan Agung kemudian menunjuk penggantinya untuk jadi adipati di Karawang. Penggantinya adalah Adipati Kertabumi IV yang tidak lain merupakan anak Singaperbangsa I yang meninggal dunia di Galuh. Wallohualam bissawab.
@dari berbagai sumber

Rabu, 04 Januari 2017

Danau Mandalare

Danau Mandalare Tempat Kece di Banjar Patroman

Sampai  juga ahirnya kami di tempat indah ini, 02 Januari 2017 pukul 14.30 kami bersama kang Hanif sebagai guidenya kami menikmati pesona danau mandalare nan indah tersebut. Mandalare merupakan sebuah desa di Kecamatan Pataruman Kabupaten Banjar Patroman Jawa Barat. Desa yang di dominasi oleh perbukitan, perkebunan serta kawasan bebatuan. Kegiatan penambangan batu menjadi kegiatan penduduk setempat. Dahulu daerah ini menjadi tempat yang rawan longsor tetapi saat ini kawasan ini akan di jadikan tempat wisata andalan kota banjar.


Keindahan Mandalare tak di ragukan lagi, perbukitan dan hutan nan indah serta persawahan yang membentang menambah pesona mandalare. Ada satu tempat yang sedang ngehits di kalangan anak muda dan menjadi buruan kaum  pecinta foto alam. Sebuah danau di sekitar bebatuan besar tempat penambang batu. Danau yang tak begitu luas tapi mampu menawarkan pesona nan luar biasa.

Menuju  ke danau tersebut dapat menggunakan kendaraan pribadi R4 atau motor, jika menggunakan kendaraan umum anda bisa menggunakan angkutan kuning trayek banjar – menganti dari Terminal banjar. Turun di mandalare dan di lanjutkan dengan trekking sekitar 1 Km  kearah penambangan Batu Mandalare. Jika menggunakan motor bisa langsung ke TKP.
Pesona danau di antara tebing batu yang menjulang akan memanjakan setiap mata traveler. Traveler dapat menikmati pada pagi hari dan siang hari.

Inilah tempat baru dan sedang ngehit di kota banjar, Jawa barat. Anda Penasaran Ayooo cepat ke TKP. Tetapi inget jangan kotori tempat indah ini dengan perilaku yang tidak menyenangkan seperti Vandalisme atau nyampah. Inget ya jadilah traveler yang baik bukan traveler yang alayers. @pepeh

Jembatan Cirahong

CIRAHONG

http://reonkpost.blogspot.com/2015/03/jembatan-cirahong-eksotik-dan-penuh.html
Jembatan Cirahong adalah jembatan kereta api yang terletak di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis, tepatnya di Manonjaya, Tasikmalaya. Jembatan ini melintas di atas Sungai Citanduy yang merupakan perbatasan dari kedua kabupaten tersebut. Jembatan ini mempunyai nomor BH 1290 dan berada di timur Stasiun Manonjaya Daerah Operasi 2 Bandung. Jembatan ini menggunakan konstruksi baja yang banyak dan cukup rapat. Jembatan yang memiliki panjang 202 meter ini merupakan jembatan yang unik, karena memiliki 2 fungsi. Bagian atas jembatan berfungsi untuk lalu lintas kereta api, sedangkan bagian bawah jembatan berfungsi untuk lalu lintas kendaraan. Namun kendaraan yang melintas harus bergantian masuk, karena ukuran jembatan yang sempit. Jembatan ini merupakan jalur alternatif dari Tasikmalaya menuju Ciamis lewat Manonjaya dan sebaliknya. Jembatan Cirahong merupakan satu-satunya jembatan peninggalan belanda di Kabupaten Ciamis.
Jembatan Cirahong adalah jembatan kereta api yang terletak di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis, tepatnya di Manonjaya, Tasikmalaya. Jembatan ini melintas di atas Sungai Citanduy yang merupakan perbatasan dari kedua kabupaten tersebut. Jembatan ini mempunyai nomor BH 1290 dan berada di timur Stasiun Manonjaya Daerah Operasi 2 Bandung. Jembatan ini menggunakan konstruksi baja yang banyak dan cukup rapat. Jembatan yang memiliki panjang 202 meter ini merupakan jembatan yang unik, karena memiliki 2 fungsi. Bagian atas jembatan berfungsi untuk lalu lintas kereta api, sedangkan bagian bawah jembatan berfungsi untuk lalu lintas kendaraan. Namun kendaraan yang melintas harus bergantian masuk, karena ukuran jembatan yang sempit. Jembatan ini merupakan jalur alternatif dari Tasikmalaya menuju Ciamis lewat Manonjaya dan sebaliknya. Jembatan Cirahong merupakan satu-satunya jembatan peninggalan belanda di Kabupaten Ciamis.

Sejarah Pembangunan Jembatan Cirahong.

Pembangunan jembatan Cirahong terjadi pada tahun 1893 yang menghubungkan antara Ciamis dan Tasikmalaya lewat jalur Manonjaya, Kab. Tasikmalaya, tidak terlepas dari peran Bupati Galuh (Ciamis-red.) R-A-A. Kusuma-diningrat.

Sebelumnya, Belanda telah membuat gambar pembangunan jalur rel kereta yang menghubungkan daerah Tasikmalaya ke Banjar/Pangandaran, tanpa melintas ke Kota Ciamis. Berdasarkan gambar yang dibuat Belanda, jalur kereta api dari Tasikmalaya-Manonjaya akan diteruskan ke daerah Cimaragas, atau sebelah selatan Sungai Citanduy. Setelah itu, masuk ke daerah Kota Banjar. Di Banjar, ada jalur menuju ke Pangandaran dan ke daerah Cilacap, Jawa Tengah.

Pertimbangannya, kalau melintas ke Kota Ciamis, berarti harus membangun dua jembatan di atas Citanduy. Tentunya, biaya
pembangunan jembatan di atas sungai tersebut, sangat besar atau mahal. Belanda membangun jalur rel tersebut, tidak hanya untuk angkutan massal. Akan tetapi, rel itu juga digunakan untuk membawa hasil bumi dari Priangan, seperti kapas, kopi, kapol, dan lainnya ke Jakarta. Apalagi waktu itu, banyak perkebunan baru didaerah Galuh, seperti perkebunan Lemah Neundeut, Bangkelung, dan lain-lain. Angkutan kereta tersebut diharapkan akan mempermudah jalur angkutan barang maupun mobilisasi orang Belanda.

Informasi tentang rencana pembangunan jalur rel kereta tersebut akhirnya sampai ke telinga Kusumadiningrat atau Kangjeng Prebu.Waktu itu, yang bersangkutan sudah pensiun dari jabatannya sebagai Bupati Galuh.Kangjeng Prebu, yang dinilai oleh para sejarawan sebagai Bupati Galuh terkemuka, akhirnya berusaha melakukan lobi kepada Belanda. Dia meminta agar jalur rel kereta melintas ke Kota Ciamis.
Caranya, dari Tasikmalaya ke Manonjaya, lalu menyeberang Sungai Citanduy untuk masuk melintas ke Kota Ciamis.
Ada beberapa pertimbangan yang disampaikan Kangjeng Prebu, kenapa sebaiknya jalur kereta melintas ke Kota Ciamis. Pertama, jumlah penduduk di Kota Ciamis sudah besar dan padat, sementara daerah Cimaragas sangat sedikit. Dengan demikian, keberadaan kereta itu akan semakin bermanfaat. Selain itu, pertimbangan lainnya ialah untuk memperkuat eksistensi Ciamis sebagai Ibu Kota Galuh. Setelah lobi panjang, akhirnya Belanda menyetujui usulan Kangjeng Prebu. Hal itu mem-buktikan bahwa dia memang masih punya pengaruh besar,
sekalipun sudah pensiun.
Belanda akhirnya membangun dua jembatan di atas Sungai Citanduy. Pertama, jembatan Cirahong, dan kedua
Karangpucung di dekat Kota Banjar. Biayanya pun cukup mahal. Tetapi Belanda merealisasikannya karena dorongan Kangjeng Prebu. Sosok Kangjeng Prebu pada masanya dikenal mampu memakmurkan daerah Galuh. Karyanya hingga sekarang masih terpelihara. Selain Cirahong, terdapat pula beberapa saluran irigasi untuk pengairan sawah teknis, misalnya saluran irigasi Gandawangi. Dia membangun saluran air Cikatomas,Wangundiredja, Tanjungmangu yang sekarang berubah namanya menjadi Nagawiru.

Kangjeng Prebu pada masa pemerintahannya, mencoba membangun atau mencetak sawah baru, perkebunan kelapa di daerah Ciamis selatan. Waktu itu, setiap calon mempelai yang akan menikah diwajibkan membawa dua buah kitri (bibit kelapa) untuk ditanam di halaman rumahnya. Kebijakan tersebut akhirnya
telah menjadikan Kabupaten Galuh sebagai sentra kelapa. Bahkan hingga sekarang, Galuh yang berganti nama menjadi Ciamis merupakan gudang kelapa, sentra gula kelapa, dan pemasok sapu lidi ke berbagai daerah.

Hingga sekarang, Makam Kangjeng Prebu masih terus dipelihara.Bahkan, setiap ulang tahun Ciamis, para pejabat berziarah ke makam tersebut. Dan Jembatan sampai saat ini masih tegap berdiri,.
Bataviase.com 
(Undang Sudrsyat/"PR")"*  
dan Berbagai Sumber

Wisata Ciamis Jawa Barat



OBJEK WISATA KANGJENG PREBU DI JAMBANSARI CIAMIS

Wisata Ciamis Jawa Barat │ Situs Jambansari terletak di tengah kota Ciamis. Tepatnya di Jl. Achmad Dahlan, lingkungan Rancapetir, Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis. Di sini terdapat kompleks makam yang dikenal bersama nama Jambansari. Seputar kompleks adalah pemukiman masyarakat, kecuali di sebelah selatan berupa sawah. Kompleks makam yang dikelola oleh Yayasan Kusumadiningrat ini dibangun kepada tahun 1872 bersama luas sekitar 4 hektar.

Biarpun terletak di tengah kota, tetapi suasana di kawasan situs ini berbeda dengan kawasan sekitarnya. Lingkungannya asri dan rindang jauh dari kebisingan. Teramat serasi buat tempat bersantai di disaat senja sembari melihat hamparan sawah. juga dapat buat sekedar melepas penat sambil menyantap makanan ringan dipinggir danau yang tidak sedikit ditumbuhi bunga teratai. Terdapat juga terapi ikan dengan tarif teramat terjangkau. 
 
Keadaan Situs Jambansari, Kompleks ini dikelilingi pagar tembok setinggi 2 m. Pintu gerbang buat masuk ke kompleks berada di segi timur, bersama wujud bangunan seperti telor. Kita mesti melintasi tangga trap utk masuk ke sana. Di tengah kompleks makam terdapat bangunan cungkup yg terbuat dari kayu jati bersama atap berbentuk limas. Di sanalah makam Kanjeng Prebu berada. Di sekeliling pemakaman terdapat sekian banyak makam kerabat & para keturunan Prebu.

Koleksi Benda Purbakala, Di dalam kompleks serta terdapat bangunan ruang daya simpan benda-benda purbakala seperti yoni, lingga, menhir, patung Ganesha, gong, keris, keramik & lain-lain. Tidak Cuma di dalam bangunan, benda-benda pusakajuga ada yg dikumpulkan di rerimbunan pohon weregu disamping bangunan. Keseluruhan semua arca yg ada di kompleks tersebut ialah 13 buah.
Menurut keterangan juru kunci makam, arca-arca yg terdapat di ruang ini dikumpulkan oleh Kangjeng Prebu. Pengumpulan dilakukan dalam rangka dakwah agama Islam. Penduduk yang memiliki arca atau berhala diharuskan untuk mengumpulkannya di area tersebut. Arca-arca yg terdapat di tempat ini di antaranya berbentuk arca megalitik, arca kategori Pajajaran, Nandi, Ganesha, & lingga. Tidak Cuma itu di ruang ini serta terdapat lumpang batu & lapik arca.
Objek Wisata Kangjeng Prebu Di Jambansari Ciamis juga sebagai destinasi wisata budaya, ada sekian banyak aspek yang dapat kita dapati bersama mengahdiri kompleks makam ini. Mula-mula berkenaan info berkaitan jejak kebesaran RAA Kusumadiningrat dalam memimpin Ciamis. Ke-2 pola islamisasi yang dilaksanakan oleh dirinya, khususnya macam mana RAA Kusumadiningrat menanggapi keyakinan warga yg tidak sama pada dikala itu.

Peristiwa Situs Jambansari 

Objek Wisata Kangjeng Prebu Di Jambansari ini adalah kompleks makam Raden Adipati Aria Kusumadiningrat, Bupati Ciamis ke-16, yg memerintah dari th 1839 - 1886. Dirinya ialah salah satu bupati Ciamis paling populer & dianggap berjasa gede dalam membangun wilayah Ciamis, dulu tetap bernama Galuh.
Sesudah resmi menjabat juga sebagai bupati, RAA Kusumahdiningrat tidak tinggal di gedung Kabupaten. Dirinya tinggal di rumahnya yang berupa rumah panggung kokoh terbuat dari kayu jati berukir yang dinamakan Keraton Selagangga. Ruumahnya ini kini ternama dengan sebutan Jambansari. 
Kangjeng Prebu dikenang sebagai bupati yang cakap. Konon dia pandai berbahasa Belanda & Perancis. Di bawah pemerintahannya, Ciamis muncul sebagai Kabupaten yang makmur. Ia membangun gedung-gedung di pusat kota diantaranya : Gedung Kabupaten yang megah (sekarang ini jadi gedung DPRD), Mesjid Agung, Gedung Asisten Residen yang kini jadi gedung Negeri, tangsi prajurit, penjara, kantor pos, kantor telegram, & gedung sositeit. 

Beliau sukses menghilangkan Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) di Ciamis, membangun irigasi, mengakses pesawahan, mendirikan 3 pabrik penggilingan kopi, terhubung perkebunan kelapa, membangun jalan antara Kawali-Panjalu. Di bagian pendidikan, Kangjeng Prebu mendirikan Sekolah Sunda yang terletak di Ciamis & di Kawali. 

Atas jasa-jasanya dia dikasih gelar Kanjeng Prebu. Pada tahun 1874 dirinya mendapatkan tanda kehormatan dari pemerintahan Hindia Belanda berupa songsong kuning (payung kebesaran berwarna kuning mas). Tahun 1878 dia pula dianugerahi Ridder Orde van de Nederlandsche Leeuw dari Ratu Belanda. 

Pada 1886 ia meninggal dan dimakamkan di Gunung Sirnayasa, Jambansari ini. Gapura makamnya ditulis dgn aksara Sunda Kuno petuahnya berupa gugurutan yang isinya juga sebagai berikut : 


Jamban tinakdir yang agung 
Caina Tamba Panyakit 
Amal Jariah Kaula 
Bupati Galuh Ciamis 
Aria Kusumadiningrat 
Medal Mas Payung Kuning

SITUS SEJARAH KOKOPLAK

Situs Kokoplak Banjar   Situs cagar budaya Embah Dalem Adipati Tambakbaya atau dikenal dengan sebutan Situs Kokoplak yang memi...